Kepemimpinan Legendaris

sumber gambar : google

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mbangun Karsa, Tut Wuri Handayani merupakan ajaran klasik kepemimpinan yg hampir setiap kita mengenalnya, bahkan mungkin telah mengimplementasikannya. Ya, betul, Ki hajar Dewantara, yg kita kenal sebagai Pelopor Pendidikan telah mengumandangkan ajaran ini dan ajaran ini terus bergulir sampai hari ini didunia pendidikan maupun bisnis.

Pemimpin diposisi terdepan memberikan visi misi, teladan, serta menunjukkan arah tanpa meninggalkan para pengikutnya; di tengah2 pemimpin bekerja sama dengan para pengikutnya utk menghasilkan karya; dan dibelakang pemimpin memberikan dukungan dan dorongan kepada pengikutnya. Demikian-lah prinsip dan domain pemimpin dan kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara. Sungguh satu ajaran yg tak lekang oleh zaman, dan dapat diterapkan dimanapun & kapanpun.

Ada begitu banyak buku, journal ilmiah dan bahasan tentang pemimpin dan kepemimpinan, serta begitu luasnya pembahasan yg telah ada tentang kepemimpinan ini. Pembahasan yg dimaksud itu dari konsep kepemimpinan, situational leadership, visionary leadership, heroic leadership, Charismatic Leadership sampai ke transactional leadership, Transformational leadership, servant leadership, spiritual leadership dan akhir-akhir ini Authentic Leadership, Holistic Leadership serta Quantum Leadership.

Sungguh pembahasan tentang kepemimpinan ini begitu luas dan dalam, dan semakin didalami semakin menarik.  Salah satu yg membuat menarik adalah ketika kita menarik sari dan esensi dari konsep-konsep kepemimpinan itu, pada akhirnya esensi yg indah itu tidak dapat lari dari nilai-nilai agung yang telah teruji oleh waktu, yaitu semua bermuara pada ajaran-ajaran universal agama.

Jadi sebetulnya, untuk belajar mendalam mengenai kepemimpinan, sangat disarankan untuk kembali kepada kebenaran agung yang sudah ada ribuan tahun lalu, dan kita akhirnya bisa melihat pembahasan-pembahasan yg ada sekarang merupakan pengembangan, pengaplikasian, dan pengejawantahan dari prinsip-prinsip agung tersebut

Kembali kepada prinsip dan ajaran yg telah diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yang masih sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Sungguh merupakan ajaran sangat perlu untuk dihayati oleh setiap pemimpin dan pimpinan disetiap organisasi.

Sumber gambar : google

Ing Ngarso Sung Tulodo (Memberikan keteladanan didepan)

Beranikah kita disebut sebagai pemimpin yg memberi teladan? Keteladanan macam apakah yg kita telah tunjukkan? Pertanyaan semacam ini sungguh berat utk dijawab didalam keterbatasan kita ini.

Salah satu fase dimana saya belajar beratnya hal ini adalah ketika anak saya yg pertama sudah bertumbuh semakin besar, dan makin mengerti. Anak-anak mulai kecil belajar bukan hanya melalui apa yg orang tuanya katakan, namun juga melalui apa yg dia lihat dari perilaku orang tuanya. Saya yakin anda pernah melihat anak-anak kecil yang mencoba menirukan apa yang dilakukan oleh ayah atau ibunya, misalnya gaya bicaranya, gaya memarahi orang lain, gaya duduk, dan hal-hal menarik lainnya

Ketika orang tua memiliki kebiasaan belanja yang buruk akan menghasilkan anak-anak kecil yg juga memiliki kebiasaan buruk dalam berbelanja. Ketika orang tua mengatakan kepada anaknya utk tidak memakan makanan junk-food/ fast-food, akan tetapi pada saat yang sama orang tua tersebut sering makan junk-food/ fast food, maka si anak akan berpikir dan bertanya, mengapa kalau junk food adalah hal yg tidak baik utk dimakan, namun orang tuanya terus memakannya, sebab ada ketidak-konsistenan yang dirasakan anaknya.

Proses ini akan berlangsung seiring dengan pertumbuhannya, dan ini merupakan tantangan bagi para orang tua.

Hal serupa terjadi apabila hal ini diletakkan pada konteks organisasi laba maupun nirlaba. Keteladanan merupakan hal yg vital bagi organisasi. Apabila pemimpin disebuah organisasi memiliki standar yg tinggi dalam hal kredibilitas dan kualitas kerja, maka para pengikutnya akan terdorong dan tertuntut secara langsung maupun tidak langsung utk memenuhi standar tersebut.

Untuk itu sangat penting bagi pemimpin utk terus melakukan instrospeksi diri bahkan terbuka akan masukan-masukan atas ketidak-sempurnaannya, sehingga hal ini mendorong diri pemimpin utk terus berkembang secara kualitas pribadi maupun  professional.

Menjadi teladan bukanlah hal mudah dan sederhana, oleh sebab kita manusia yang berdaging, sehingga sangatlah rentan terhadap kesalahan. Namun, menjadi teladan pada saat yg sama tidak dapat dihindari dan merupakan satu kewajiban dan tugas bagi pemimpin yg berkualitas dan penuh kredibilitas

Ing Madya Mbangun Karsa (Ditengah bekerjasama menghasilkan karya)

Peran pemimpin sangatlah vital, namun konsep kepemimpinan hendaknya tidak diartikan seperti seorang raja yg duduk disinggasana kerajaan dan tidak pernah tahu kehidupan rakyatnya seperti apa. Seorang pemimpin yang bijak, seperti diajarkan Ki Hajar Dewantara, adalah seorang pemimpin yg turun gunung dan melihat keadaan sekitar serta berkarya bersama para pengikutnya.

Apa saja yang dilakukan seorang Pemimpin ditengah2 pengikutnya? Pertama, mendengarkan. Mengamati menggunakan mata, telinga dan hati pikiran atas apa yang terjadi dibawah sana. Di dalam kesibukan aktifitas seorang pemimpin dituntut untuk berada disekitar para pengikutnya dan mendengarkan dengan segenap hati dan pikiran untuk mengerti.

Kedua, keberadaannya diantara para pengikut. Sembari mendengarkan, pemimpin diharapkan untuk ada diantara para pengikutnya. Salah satu sumber rasa aman para pengikut ada pada keberadaan pemimpinnya yang mau menerima, mengerti dan mendukung mereka dalam proses perjalanan karyanya.

Tut Wuri Handayani (Mendukung & mendorong para pengikutnya dari belakang)

Setelah memimpin dari depan dengan member arah dan teladan, kemudian memimpin ditengah-tengah untuk berkarya bersama, berikutnya adalah memimpin dari belakang dengan memberi dukungan dan dorongan untuk terus maju dan berkarya menjalankan visi misi organisasinya.

Dengan demikian lengkaplah domain kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara, yaitu dari depan, ditengah, dan juga dibelakang. Tidak jarang pemimpin memiliki ritme kerja yang berbeda dalam menjalankan visi misi organisasi, sehingga para pengikutnya tertinggal dan terpisah dari lokomotif-nya.

Dengan menjalankan ajaran Ki Hajar Dewantara, kita diingatkan untuk ingat dan bersabar untuk ambil waktu menurunkan ritme sambil melihat apakah barisan tetap utuh dan rapi. Salah satu cara untuk mengetahui hal ini adalah dengan berjalan kebelakang dan memimpin dari belakang, sehingga pemimpin dapat melihat kecepatan, kesulitan dan halangan yang dialami para pengikutnya.

Disanalah para pemimpin dimungkinkan untuk mengerti apa yang harus dilakukan kepada para pengikutnya; mulai dari coaching, counseling, motivating, appreciating, dan lain-lain.

Sebagai ringkasan akhir, ajaran Ki Hajar Dewantara ini sungguh dalam untuk dimaknai dan diterapkan kedalam kehidupan kepemimpinan kita. Beliau dengan jeli melihat domain atau wilayah kepemimpinan dari posisinya, yaitu didepan, ditengah dan dibelakang. Dengan demikian, diharapkan para pemimpin dapat memberikan dampak yang lebih maksimal dan menghasilkan karya-karya yang berharga dan bernilai.

Apabila kita belajar dari sejarah, sungguh kita sebenarnya dapat menemukan ajaran-ajaran yang bernilai luhur dan legendaries. Namun entah, seberapa banyak pimpinan mengaksesnya, mempelajarinya serta menerapkannya didalam kehidupan kepemimpinan-nya.

Semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini mengingatkan kita pada ajaran2 yang dianggap kuno namun sarat nilai ini serta kita dimampukan untuk melihat relevansi-nya kedalam kehidupan sekarang. Akhirnya, kita-pun mau untuk menerapkannya didalam dunia kepemimpinan kita.   

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of